Belajar berempati nggak mesti nunggu besar atau dewasa
Terbukti sekali, empati pada anak-anak bisa lebih mudah ditemukan
Dengan sikap yang natural dan seadanya terkadang mereka tidak menyadari hal itu.
Seperti kejadian semalam, saat pulang dari kantor, duo krucil cerita tentang apa yang terjadi seharian disekolah mereka secara bergantian.
Saya sengaja membiasakan hal ini, agar mereka terbiasa juga bercerita tentang apa yang mereka alami. Karena si kakanya lebih cenderung pendiam kalau diluar dan uminya belum bisa membersamai mereka 24 jam.
Seperti biasa si bungsu yang suka mendahului 😉
Nisa : Umi, tadi Nisa udah kumpulin dompetnya ke bu Guru.
Umi : Alhamdulillah, emang tadi Nisa kasih infaq berapa?
Nisa : Semuanya mi... (Jawabnya sambil senyum-senyum.. )
Umi : MasyaAlloh . Trus tadi nggak jajan dong?
Nisa : Iya mi, nggak papa mi. Kan buat bantu orang-orang yang di Rohingya.
Lagian kan Nisa udah bawa bekel sama makanan juga.
Umi : Alhamdulillah pinter..
Nisa : Oia mi, tadi Nisa dibeliin roti maryam loh sama temen Nisa si ini...
Umi : koq bisa, kan mahal De ?
Nisa : iya mi, Nisa juga nggak tau kan Nisa disuruh nemenin temen Nisa jajan, eh nggak taunya Nisa dipesenin juga, pas udah jadi Nisa dikasih deh.
Umi : Alhamdulillah itu namanya rezeki De, rezeki yang tidak disangka-sangka, kalau tadi Nisa kan kasih hadiah buat saudara- saudara kita yang di Rohingya, jadi Alloh juga kasih hadiah deh buat Nisa.
Uang jajan anak-anak SD mungkin nggak seberapa dibanding uang jajan yang lainnya. Tapi untuk anak-anak seusia itu adalah sebuah usaha yang patut diapresiasi. Karena dengan memberikan pemahaman dan menumbuhkan sikap berempati InsyaAlloh mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik dimasa depan dan lebih peka terhadap kondisi dan keadaan disekitar mereka.
Karena dengan berbagi juga lah kita bisa menikmati dunia.
Catatan by Dian Larasati
20 September 2017

Komentar
Posting Komentar