Kembali ya kita belajar tentang empati, sebelum berpanjang lebar biar lebih afdhol, kita kupas dulu tuh apa sih yang namanya empati itu..
Empati adalah salah satu sifat baik yang bisa menjamin bahwa anak akan menjadi pribadi yang disukai orang disekelilingnya.
Menempatkan diri pada posisi orang lain juga merupakan landasan penting dalam membangun kepedulian anak-anak terhadap orang lain.
Menurut bahasa Empati adalah kemampuan dengan berbagai definisi yang berbeda yang mencakup spe
ktrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk menolong sesama, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain.
Kalau menurut Dr. Bruce D. Perry M.D Ph.D seorang anggota senior di Child Trauma Academy mengatakan, “Empati bisa jadi merupakan anugerah yang paling bermutu bagi ras manusia. Kita tidak akan bisa bertahan hidup tanpa menciptakan hubungan dan kelompok yang bisa berfungsi secara bersamaan.”
Panjang ya pengertiannya hehehe
Simpelnya sih, empati itu kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan.
Seperti yang sedang terjadi di Rakhine, Rohingya akhir-akhir ini. Banyak saudara muslim kita yang terjajah, terluka dan teraniaya. Karena disana sedang bergejolak dan terjadi pemusnahan etnis muslim.
Untuk ikut merasakan itu, kita tidak harus ikut tinggal disana dan ikut menjadi korban seperti mereka.
Tapi cukup hati kecil kita yang merasakan bagaimana penderitaan mereka.
Alhamdulillah saat ini banyak sekali organisasi masyarakat yang sudah turut berperan serta aktif untuk menggalang dana kemanusiaan untuk membantu mereka.
Salah satunya adalah kegiatan yang di motori oleh Qu Pro. Salah satu production house yang menggalang dana via acara konser nasyid.
Nah saat ini, Qu pro menyasar pada rasa empati yang dimiliki anak-anak dengan acara yang bertajuk "Opick Goes To School"
Pembiasaan berempati sejak dini memang sangat mungkin dapat mendidik anak-anak menjadi pribadi yang tidak egois dan hanya mementingkan diri sendiri.
Seperti kutipan pembicaraan saya dengan anak sulung saya berikut :
Abyan : Mi, kasian ya orang-orang yang di Rohingya itu.
Umi : Kenapa ka ?
Abyan : Iya kaka liat di tv koq pada di jahatin gitu ya. Kaka juga mau ikutan bantuin ya mi. Nanti setiap hari uang jajan kaka, mau kaka masukin ke dompet kemanusiaan Rohingya aja.
Umi : Loh kaka nanti nggak jajan dong?
Abyan : Iya nggak papa mi.
Umi : Ka, penggalangan dana kemanusiaan itu kan sifat nya sedekah sayang, sedekah itu boleh berapa aja kaka masukin ke dompet amalnya, nggak harus semuanya koq.
Abyan : iya ngga papa mi, kan orang-orang di Rohingya itu lebih membutuhkan.
Lagian kan cuma 3 minggu aja. Biar kaka bisa nyumbang banyak. Nanti kalau udah selesai penggalangan dana nya ya kaka jajan lagi hehehe..
Ringan sekali apa yang diucapkannya, namun berat juga dengernya.
Berasa agak tercolek hati mendengarnya.
Agak merinding dan hampir meleleh dibuatnya, tapi hati ibu mana yang nggak bersyukur kalau mendengar anaknya bicara seperti itu.
Fastabiqul khoirot tidak hanya berlaku untuk orang dewasa saja, tapi saat ini anak-anak pun sudah senang melakukannya. Dan itu menjadi sebuah alasan mengapa penting menumbuhkan sikap empati sejak dini, jadi ketika mereka melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, mereka bisa lwbih berpikir jernih dan tidak terpengaruh oleh keadaan.
Serta untuk memastikan bahwa anak-anak dapat tumbuh menjadi yang kuat dan pribadi yang peduli pada orang lain.
Dan dengan Empati kepada orang lain adalah cara kita mengembangkan perasaan bersyukur, harapan, dan juga kepedulian.
Semoga tidak hanya anak-anak kecil saja yang dapat tersentuh oleh secuil kisah tentang Rohingya, tapi juga kita kita semua.
Salam Ukhuwah
Dian Larasati
Empati adalah salah satu sifat baik yang bisa menjamin bahwa anak akan menjadi pribadi yang disukai orang disekelilingnya.
Menempatkan diri pada posisi orang lain juga merupakan landasan penting dalam membangun kepedulian anak-anak terhadap orang lain.
Menurut bahasa Empati adalah kemampuan dengan berbagai definisi yang berbeda yang mencakup spe
ktrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk menolong sesama, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain.
Kalau menurut Dr. Bruce D. Perry M.D Ph.D seorang anggota senior di Child Trauma Academy mengatakan, “Empati bisa jadi merupakan anugerah yang paling bermutu bagi ras manusia. Kita tidak akan bisa bertahan hidup tanpa menciptakan hubungan dan kelompok yang bisa berfungsi secara bersamaan.”
Panjang ya pengertiannya hehehe
Simpelnya sih, empati itu kita bisa merasakan apa yang orang lain rasakan.
Seperti yang sedang terjadi di Rakhine, Rohingya akhir-akhir ini. Banyak saudara muslim kita yang terjajah, terluka dan teraniaya. Karena disana sedang bergejolak dan terjadi pemusnahan etnis muslim.
Untuk ikut merasakan itu, kita tidak harus ikut tinggal disana dan ikut menjadi korban seperti mereka.
Tapi cukup hati kecil kita yang merasakan bagaimana penderitaan mereka.
Alhamdulillah saat ini banyak sekali organisasi masyarakat yang sudah turut berperan serta aktif untuk menggalang dana kemanusiaan untuk membantu mereka.
Salah satunya adalah kegiatan yang di motori oleh Qu Pro. Salah satu production house yang menggalang dana via acara konser nasyid.
Nah saat ini, Qu pro menyasar pada rasa empati yang dimiliki anak-anak dengan acara yang bertajuk "Opick Goes To School"
Pembiasaan berempati sejak dini memang sangat mungkin dapat mendidik anak-anak menjadi pribadi yang tidak egois dan hanya mementingkan diri sendiri.
Seperti kutipan pembicaraan saya dengan anak sulung saya berikut :
Abyan : Mi, kasian ya orang-orang yang di Rohingya itu.
Umi : Kenapa ka ?
Abyan : Iya kaka liat di tv koq pada di jahatin gitu ya. Kaka juga mau ikutan bantuin ya mi. Nanti setiap hari uang jajan kaka, mau kaka masukin ke dompet kemanusiaan Rohingya aja.
Umi : Loh kaka nanti nggak jajan dong?
Abyan : Iya nggak papa mi.
Umi : Ka, penggalangan dana kemanusiaan itu kan sifat nya sedekah sayang, sedekah itu boleh berapa aja kaka masukin ke dompet amalnya, nggak harus semuanya koq.
Abyan : iya ngga papa mi, kan orang-orang di Rohingya itu lebih membutuhkan.
Lagian kan cuma 3 minggu aja. Biar kaka bisa nyumbang banyak. Nanti kalau udah selesai penggalangan dana nya ya kaka jajan lagi hehehe..
Ringan sekali apa yang diucapkannya, namun berat juga dengernya.
Berasa agak tercolek hati mendengarnya.
Agak merinding dan hampir meleleh dibuatnya, tapi hati ibu mana yang nggak bersyukur kalau mendengar anaknya bicara seperti itu.
Fastabiqul khoirot tidak hanya berlaku untuk orang dewasa saja, tapi saat ini anak-anak pun sudah senang melakukannya. Dan itu menjadi sebuah alasan mengapa penting menumbuhkan sikap empati sejak dini, jadi ketika mereka melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan yang seharusnya, mereka bisa lwbih berpikir jernih dan tidak terpengaruh oleh keadaan.
Serta untuk memastikan bahwa anak-anak dapat tumbuh menjadi yang kuat dan pribadi yang peduli pada orang lain.
Dan dengan Empati kepada orang lain adalah cara kita mengembangkan perasaan bersyukur, harapan, dan juga kepedulian.
Semoga tidak hanya anak-anak kecil saja yang dapat tersentuh oleh secuil kisah tentang Rohingya, tapi juga kita kita semua.
Salam Ukhuwah
Dian Larasati
Aamiin Allahuma aamiin
BalasHapusMakasih doanya kang
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus