Adalah Thalhah bin Abdurrahman bin Auf orang kaya yang dermawan di masanya. Ayahnya, Abdurrahman bin Auf, adalah salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga.
Suatu saat sang istri berujar, "Tak pernah kulihat orang yang layak dicela selain teman-temanmu."
"Kenapa begitu?" tanya Thalhah dengan tenang.
"Bagaimana tidak, kuperhatikan seksama, pas kamu berpunya mereka mendekatimu. Giliran kamu tak punya apa-apa, mereka seakan menjauhimu!" jawab sang istri dengan berapi-api.
"Demi Allah, aku melihatnya berbeda, sayang. Inilah keluhuran akhlak mereka. Mereka berkunjung saat tahu kita mampu memuliakan mereka...
Sebaliknya, mereka tahan diri untuk tak bertandang kepada kita di saat tahu kita tak mampu memenuhi hak-hak mereka sebagai tamu," jelas Thalhah pada istrinya.
Begitu menyejukkan sikap Thalhah. Ia menahan diri untuk menghakimi sahabat-sahabatnya. Ia memaknai perilaku teman-temannya dari sudut terbaik, yang tidak membuka celah bagi benih prasangka yang dipercikkan setan kepadanya. Ia redam bara prasangka dalam diri istrinya terhadap sikap teman-temannya dengan sikap yang bijak dan pikiran yang terang.
Maka bersahabat adalah setapak jalan untuk selalu berprasangka baik pada sahabatnya. Berkaca pada Thalhah, kita bisa terjebak pada kacamata dan sudut pandang istrinya. Faktanya memang demikian; orang-orang itu datang di kala kaya dan menjauh di saat melarat.
Tapi fakta itu punya banyak penafsiran. Ia punya persepsi yang berbeda-beda. Di situlah celah dan godaannya. Di situ pula kita mesti waspada.
Suatu saat sang istri berujar, "Tak pernah kulihat orang yang layak dicela selain teman-temanmu."
"Kenapa begitu?" tanya Thalhah dengan tenang.
"Bagaimana tidak, kuperhatikan seksama, pas kamu berpunya mereka mendekatimu. Giliran kamu tak punya apa-apa, mereka seakan menjauhimu!" jawab sang istri dengan berapi-api.
"Demi Allah, aku melihatnya berbeda, sayang. Inilah keluhuran akhlak mereka. Mereka berkunjung saat tahu kita mampu memuliakan mereka...
Sebaliknya, mereka tahan diri untuk tak bertandang kepada kita di saat tahu kita tak mampu memenuhi hak-hak mereka sebagai tamu," jelas Thalhah pada istrinya.
Begitu menyejukkan sikap Thalhah. Ia menahan diri untuk menghakimi sahabat-sahabatnya. Ia memaknai perilaku teman-temannya dari sudut terbaik, yang tidak membuka celah bagi benih prasangka yang dipercikkan setan kepadanya. Ia redam bara prasangka dalam diri istrinya terhadap sikap teman-temannya dengan sikap yang bijak dan pikiran yang terang.
Maka bersahabat adalah setapak jalan untuk selalu berprasangka baik pada sahabatnya. Berkaca pada Thalhah, kita bisa terjebak pada kacamata dan sudut pandang istrinya. Faktanya memang demikian; orang-orang itu datang di kala kaya dan menjauh di saat melarat.
Tapi fakta itu punya banyak penafsiran. Ia punya persepsi yang berbeda-beda. Di situlah celah dan godaannya. Di situ pula kita mesti waspada.
Komentar
Posting Komentar